BudAI: Identitas Islami yang Menjadi Karakter UNISSULA (Berawal dari aturan, menjadi kebiasaan, lalu mengakar sebagai gaya hidup kampus)

Penulis Hidayat Bagas Ramadhan 


1. Pendahuluan

        Di tengah derasnya arus globalisasi, perguruan tinggi tidak hanya dituntut mencetak lulusan yang pintar secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat agar mampu menjadi agen perubahan. Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA)  menjawab tantangan itu dengan menghadirkan Budaya Akademik Islami (BudAI). BudAI pertama kali dideklarasikan pada 18 Agustus 2005 oleh Rektor Dr. Rofiq Anwar. Sejak saat itu, BudAI menjadi ruh kampus yang menjiwai setiap aktivitas akademik maupun nonakademik. BudAI bukan sekadar kumpulan aturan, tetapi sudah menjadi identitas Islami yang membentuk karakter khas UNISSULA.

2. Pilar BudAI

BudAI berdiri di atas dua pilar utama yang saling menguatkan:

a). Penguatan Ruhiyah
        Penguatan ruhiyah dilakukan untuk membentuk spiritualitas civitas akademika agar berakhlak mulia. Hal ini diwujudkan melalui pembiasaan ibadah seperti shalat berjamaah di kampus, penggunaan busana Islami, menjaga kebersihan dan kesucian (tahaarat), serta menumbuhkan sikap ramah dan saling menghormati. Selain itu, keteladanan dari dosen dan tenaga kependidikan menjadi bagian penting agar mahasiswa dapat mencontoh perilaku Islami dalam kehidupan sehari-hari.

b). Penguatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek)
       Selain ruhiyah, BudAI juga menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan modern. Semangat iqra’ menjadi dasar dalam mengembangkan keilmuan yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Unissula membangun tradisi keilmuan yang Islami dengan menciptakan Islamic Learning Society (ILS), yaitu lingkungan akademik yang menjadikan Islam sebagai pandangan hidup sekaligus inspirasi dalam setiap kegiatan ilmiah. Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki landasan moral yang kokoh.

3. Gerakan Nyata BudAI di Kampus


        BudAI diwujudkan melalui lima gerakan utama yang menjadi ciri khas kehidupan sehari-hari di UNISSULA, yaitu:

  1. Prayer Together Movement  (shalat berjamaah Dzuhur, Ashar, dan Dhuha)

    Gerakan ini melatih mahasiswa untuk membiasakan diri menjaga shalat tepat waktu dan berjamaah. Dengan adanya panggilan untuk shalat di kampus, suasana akademik berubah menjadi religius dan penuh kedisiplinan. Shalat berjamaah tidak hanya soal ibadah, tetapi juga sarana memperkuat persaudaraan dan rasa kebersamaan

  2. Islamic Dress Movement (penggunaan pakaian Islami sesuai syariat)

    Di Unissula, berpakaian rapi dan menutup aurat bukan sekadar formalitas, melainkan identitas. Mahasiswa, dosen, hingga tenaga kependidikan dibiasakan tampil Islami sesuai syariat. Gerakan ini mengajarkan bahwa etika dalam berpakaian mencerminkan kesopanan, penghormatan terhadap diri sendiri, dan penghormatan kepada orang lain.

  3. Tahaarat Movement (menjaga kebersihan diri dan lingkungan)

    Kebersihan adalah bagian dari iman, dan Unissula menegaskannya lewat gerakan tahaarat. Mahasiswa didorong untuk senantiasa menjaga kebersihan diri, ruang belajar, hingga lingkungan kampus. Gerakan ini menanamkan kesadaran bahwa lingkungan yang bersih akan menciptakan suasana belajar yang nyaman sekaligus mendukung kesehatan.

  4. Modeling Movement  (keteladanan dosen, karyawan, dan mahasiswa senior)

    Teladan lebih kuat daripada sekadar kata-kata. Karena itu, dosen, karyawan, dan mahasiswa senior diharapkan menjadi model perilaku Islami bagi mahasiswa lain. Dari cara berkomunikasi, sikap dalam mengajar, hingga cara berpakaian, semua dijadikan contoh nyata agar nilai-nilai Islami tidak hanya diajarkan, tetapi ditunjukkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

  5. Reciting Qur’an Movement (tilawah dan tadabbur Al-Qur’an bersama)

    Gerakan ini membiasakan mahasiswa membaca dan menghayati Al-Qur’an, baik di awal perkuliahan maupun dalam kegiatan bersama. Tilawah dan tadabbur bukan hanya rutinitas spiritual, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan pedoman dalam berpikir serta bertindak. Dari sini lahir budaya akademik yang selalu berorientasi pada nilai ilahiah.
4. Sistem dan Lembaga Pendukung

        Agar BudAI tidak hanya berhenti pada tataran gagasan, Unissula membentuk lembaga khusus yang memastikan program ini berjalan konsisten. Salah satunya adalah Lembaga Pengembangan BudAI (LP-BudAI). Lembaga ini berperan sebagai motor penggerak, mulai dari merancang kegiatan, mengelola pelaksanaan, sampai melakukan evaluasi secara berkala. Dengan adanya LP-BudAI, setiap kegiatan bernuansa Islami di kampus bisa berjalan terarah dan terukur.

        Selain itu, ada juga Islamic Learning Society (ILS) yang berfungsi menghidupkan suasana Islami di lingkungan kampus. Melalui ILS, mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai kegiatan pembinaan seperti pesantren mahasiswa baru, tutorial membaca Al-Qur’an, hingga pembinaan karakter Islami di asrama. Semua ini bertujuan agar mahasiswa merasakan atmosfer Islami bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga di kehidupan sehari-hari.

        Kehadiran LP-BudAI dan ILS membuat BudAI memiliki sistem pendukung yang kokoh. Bukan sekadar program seremonial, BudAI dijalankan secara nyata dan berkesinambungan. Dengan sistem ini, BudAI benar-benar tumbuh menjadi budaya kampus yang hidup, membimbing seluruh civitas akademika untuk senantiasa menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan kekuatan spiritual.

5. BudAI sebagai Ciri Khas UNISSULA

        BudAI menjadikan UNISSULA berbeda dengan perguruan tinggi lain. Jika universitas pada umumnya fokus pada mutu akademik semata, Unissula menambahkan sentuhan khas berupa pembinaan karakter Islami. Identitas ini membuat lulusan 
UNISSULA dikenal tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga santun, berakhlak, dan berjiwa kepemimpinan. BudAI pada akhirnya menjadi nilai jual unik sekaligus keunggulan kompetitif UNISSULA.

6. Tantangan dan Inovasi

        Di era digital, BudAI menghadapi tantangan besar. Budaya global yang masuk lewat media sosial dan gaya hidup modern sering kali berseberangan dengan nilai Islami. Untuk itu, berbagai inovasi terus dilakukan, mulai dari pelatihan BudAI bagi dosen dan karyawan, pengembangan dakwah digital, hingga penganugerahan BudAI Award sebagai penghargaan bagi tokoh teladan Islami. Langkah-langkah ini memastikan BudAI tetap relevan dan mampu menjawab dinamika zaman. 

7. Penutup

        BudAI adalah identitas Islami yang kini melekat pada karakter UNISSULA. Dicetuskan pertama kali oleh Dr. Rofiq Anwar pada tahun 2005, BudAI tumbuh dari aturan sederhana menjadi kebiasaan, lalu mengakar sebagai budaya kampus. Inilah yang menjadikan Unissula bukan sekadar tempat menuntut ilmu, tetapi juga ruang pembentukan insan berilmu dan berakhlak. Dengan BudAI, UNISSULA konsisten melahirkan generasi Khaira Ummah generasi yang bermanfaat bagi umat dan bangsa, sekaligus siap berkiprah dalam kancah global.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fakultas Ekonomi

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG (UNISSULA) : MEMBANGUN GENERASI KHAIRA UMMAH

MBKM Unissula : Mahasiswa Raih Pengalaman Nyata di Berbagai Perusahaan